Musely Raih Rp5,7 Triliun dari General Catalyst Tanpa Lepas Saham Perusahaan

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 01 Mei 2026 | 06:48:27 WIB
Musely berhasil mengantongi Rp5,7 triliun dari General Catalyst tanpa melepas saham perusahaan.

Musely, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang perawatan kulit, rambut, dan kesehatan menopause, baru saja mencatatkan sejarah finansial yang menarik. Melalui skema dari Customer Value Fund (CVF) milik General Catalyst, mereka mendapatkan suntikan modal jumbo tanpa menyerahkan ekuitas sedikit pun. Dana ini akan digunakan secara khusus untuk mempercepat akuisisi pelanggan di pasar yang semakin kompetitif.

CEO sekaligus co-founder Musely, Jack Jia, mengungkapkan bahwa awalnya ia tidak berencana mencari pendanaan baru. Sejak mengubah haluan bisnis menjadi layanan perawatan kulit berdasarkan resep dokter pada 2019, Musely telah mencatatkan arus kas positif selama bertahun-tahun. Jia sangat menjaga kepemilikan sahamnya dan berulang kali menolak tawaran dari berbagai perusahaan modal ventura (VC) tradisional.

Berbeda dengan skema VC pada umumnya, CVF tidak meminta jatah saham atau memberikan pinjaman dengan bunga tinggi. Model ini lebih menyerupai kesepakatan bagi hasil kecil. Perusahaan dengan aliran pendapatan yang dapat diprediksi seperti Musely meminjam modal, lalu membayarnya kembali bersama persentase tetap dari pendapatan yang dihasilkan melalui penggunaan dana tersebut.

Strategi Efisiensi Modal di Tengah Bakar Uang

Jia mengaku sempat skeptis dengan tawaran ini sebelum akhirnya melakukan perhitungan mendalam. "Saat saya memodelkannya secara matematis, saya menemukan ini sangat menarik," ujarnya. Baginya, syarat yang diajukan CVF jauh lebih menguntungkan daripada pinjaman bank standar dan jauh lebih murah dibandingkan putaran pendanaan ekuitas yang mendilusi saham pendiri.

Meskipun Musely tumbuh rata-rata 50 persen setiap tahun dan telah melayani 1,2 juta pasien, biaya mendapatkan pelanggan baru di industri direct-to-consumer (DTC) tetaplah tinggi. Jia menjelaskan bahwa untuk menjadi perusahaan dengan pendapatan miliaran dolar, dibutuhkan modal yang juga besar. Itulah alasan mengapa banyak perusahaan DTC mengalami tingkat burn rate atau bakar uang yang sangat parah.

Pendanaan dari CVF ini menjadi "peti perang" bagi Musely untuk mendanai upaya pemasaran dan penjualan tanpa mengganggu struktur kepemilikan perusahaan. Langkah ini menempatkan Musely dalam jajaran portofolio elit CVF bersama nama-nama besar seperti Grammarly, Lemonade, dan Ro. Hal ini membuktikan bahwa efisiensi modal mulai menjadi prioritas utama di ekosistem startup global saat ini.

Apa Artinya untuk Pengguna di Indonesia?

Meski Musely saat ini beroperasi di Amerika Serikat, tren telemedisin spesialis seperti ini sangat relevan dengan pasar Indonesia. Masyarakat Indonesia kini semakin terbiasa berkonsultasi dengan dokter secara daring melalui platform seperti Halodoc atau Alodokter. Model bisnis Musely yang fokus pada pengobatan racikan (compounded treatments) untuk masalah spesifik bisa menjadi inspirasi bagi startup lokal.

Di Indonesia, permintaan akan produk perawatan kulit (skincare) dan solusi kesehatan hormonal terus meningkat tajam. Jika model pendanaan non-dilutif seperti yang dilakukan Musely ini diadopsi oleh startup kesehatan di tanah air, konsumen mungkin akan melihat lebih banyak inovasi layanan tanpa harus khawatir perusahaan tersebut tumbang karena kehabisan modal setelah fase bakar uang berakhir.

Keberhasilan Musely juga menunjukkan bahwa profitabilitas adalah benteng terkuat bagi pendiri startup. Dengan memiliki arus kas yang sehat, perusahaan memiliki posisi tawar yang lebih tinggi di depan investor. Mereka bisa memilih jenis pendanaan yang paling menguntungkan bagi kelangsungan bisnis jangka panjang, bukan sekadar bertahan hidup dari satu putaran pendanaan ke putaran berikutnya.

Hingga saat ini, Musely tetap menjadi salah satu contoh langka startup yang sangat efisien. Setelah meraih 20 juta dolar AS (sekitar Rp320 miliar) pada 2014, mereka tidak pernah lagi menggalang dana ekuitas. Layanan mereka yang memungkinkan pasien mengakses produk resep melalui konsultasi asinkron dengan dokter spesialis kulit dan kandungan tetap menjadi motor utama pertumbuhan mereka.

Reporter: Redaksi
Back to top