Rupiah Terus Melemah ke Rp17.844 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Data Domestik Jadi Beban

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Senin, 01 Juni 2026 | 10:10:01 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.844 per dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik dan data domestik.

ACEH — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen pada Senin (1/6) pagi, mengikuti koreksi mayoritas mata uang Asia. Yen Jepang dan baht Thailand ikut tertekan, sementara won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen. Mata uang utama negara maju seperti euro dan poundsterling juga kompak berada di zona merah.

Dua Sumber Tekanan: Geopolitik Global dan Data Domestik

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini masih dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih belum jelas arahnya, serta antisipasi terhadap rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan rilis besok.

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini. Lukman menambahkan, harga minyak yang sudah menurun bisa menjadi katalis positif bagi rupiah ke depannya.

BI: Kebutuhan Valas Musiman dan Intervensi Terus Dilakukan

Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026 lalu dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlanjut. Kedua, meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) di dalam negeri secara musiman, terutama untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa arus masuk dolar AS yang terbatas membuat tekanan semakin terasa. Meski demikian, ia menegaskan komitmen bank sentral untuk terus melakukan intervensi di pasar guna menjaga stabilitas kurs. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," kata Ramdan pada Jumat (29/5) lalu.

Apa Arti Pelemahan Ini bagi Investor dan Pelaku Bisnis?

Pelemahan rupiah yang berkepanjangan menjadi sinyal waspada bagi investor asing dan domestik. Bagi perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS, beban pembayaran akan membengkak. Sementara itu, sektor importir juga akan merasakan tekanan biaya bahan baku yang lebih tinggi. Di sisi lain, eksportir komoditas justru bisa diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Pelaku pasar kini menunggu data inflasi dan neraca perdagangan besok sebagai acuan langkah selanjutnya. Jika inflasi terkendali dan surplus perdagangan tetap terjaga, rupiah berpotensi kembali menguat. Namun, jika data menunjukkan pelemahan, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut dalam jangka pendek.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top