JANTHO — Akses air bersih menjadi persoalan klasik di sebagian besar wilayah Aceh Besar. Dari 604 gampong yang tersebar di area seluas hampir 3.000 kilometer persegi, baru sekitar 38 persen warga yang terlayani PDAM. Sisanya mengandalkan air sungai yang belum tertampung optimal, atau sumber lain yang tak layak konsumsi.
Kondisi itulah yang mendorong PT Sucofindo (Persero) membangun sumur bor di Gampong Lambleut. Peresmian sumur dilakukan bersamaan dengan peringatan HUT ke-70 perusahaan yang jatuh pada tahun ini.
Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris hadir langsung dalam peresmian tersebut. Ia menyebut bantuan itu sebagai hadiah yang sangat berarti.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sucofindo atas bantuan sumur bor ini untuk masyarakat Gampong Lambleut. Ini merupakan hadiah yang luar biasa,” ujarnya dalam sambutan.
Muharram menekankan bahwa sedekah air adalah amalan yang sangat mulia dalam ajaran agama karena manfaatnya terus mengalir. Ia mencontohkan kisah Sayyidina Utsman bin Affan yang mewakafkan sumur untuk kepentingan umat.
Komisaris Independen PT Sucofindo, Mahatma Gandhi, mengungkapkan bahwa program sumur bor ini berawal dari inisiatif almarhum Keuchik Gampong Lambleut, Bahrunnazar. Ia aktif mengajukan proposal ke berbagai pihak sebelum akhirnya diterima Sucofindo.
“Air merupakan sumber kehidupan. Ketika kami menerima proposal tersebut dan mengetahui kondisi kualitas air di lokasi yang kurang layak konsumsi, kami tergerak untuk merealisasikan bantuan ini,” kata Mahatma.
Ia mengajak seluruh hadirin mendoakan almarhum Bahrunnazar yang wafat beberapa hari setelah air dari sumur tersebut berhasil keluar. “Beliau adalah sosok yang menggagas program ini, namun belum sempat merasakan manfaatnya,” tambahnya.
Mahatma menjelaskan bahwa sumur bor di Gampong Lambleut merupakan proyek perdana. Sucofindo menargetkan pembangunan 70 sumur bor di berbagai daerah dalam rangka HUT ke-70 perusahaan.
“Pemilihan lokasi dilakukan secara objektif berdasarkan kebutuhan masyarakat,” tegasnya. Program ini merupakan kolaborasi Sucofindo bersama ABPEDNAS dan Kejaksaan RI.
Perwakilan ABPEDNAS, Teuku Fadli, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari gerakan nasional bertajuk “Mengabdi, Jaga Air Bersih untuk Negeri”.
Di akhir sambutannya, Bupati Muharram mengingatkan warga untuk menjaga dan memanfaatkan fasilitas sumur bor secara bijak. Ia khawatir jika pengelolaannya tidak baik justru menimbulkan perselisihan antarwarga.
“Jangan sampai menimbulkan konflik. Gunakan air ini dengan bijak, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian,” pungkasnya.
Ia juga berharap program sumur bor tidak berhenti pada momen ulang tahun Sucofindo, tetapi bisa berlanjut. Aceh Besar, menurutnya, masih sangat membutuhkan infrastruktur air berskala besar seperti waduk untuk menjamin ketersediaan air di masa depan.