BANDA ACEH — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni secara khusus memberi nama Badar pada bayi orang utan yang baru lahir di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Nama yang bermakna bulan purnama itu diharapkan menjadi simbol harapan baru bagi kelestarian populasi satwa endemik yang terancam punah di alam liar.
Induk bernama Bulan merupakan hasil rehabilitasi yang telah hidup bebas sejak dilepasliarkan pada 2018. Sebelumnya, ia adalah korban perdagangan satwa liar yang berhasil diselamatkan di Kutacane, Aceh Tenggara, saat usianya masih sekitar dua tahun.
Setelah diselamatkan, Bulan menjalani rehabilitasi selama empat tahun di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orang Utan YEL-SOCP Sibolangit, Sumatera Utara. Perjalanan panjang dari kandang rehabilitasi hingga mampu melahirkan di habitat alami menjadi indikator keberhasilan program konservasi.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan bayi orang utan tersebut terus berada dalam dekapan sang induk. "Sejak sebulan lalu, Bulan terpantau bergerak aktif di tajuk hutan sambil menggendong bayinya. Saat terpantau, Bulan terlihat aktif bergerak dan menunjukkan perilaku protektif," kata Ujang.
Bayi berjenis kelamin jantan itu diperkirakan berusia sekitar satu bulan dan terlihat dalam kondisi sehat. Kelahiran ini sekaligus membuktikan bahwa orang utan hasil rehabilitasi mampu beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak secara alami di habitat aslinya.
Orang Utan Sumatera merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia dan berstatus kritis dalam daftar konservasi internasional. Spesies yang hanya hidup alami di Pulau Sumatera tersebut berada pada tingkat risiko sangat tinggi untuk punah di alam liar.
Ujang menegaskan bahwa keberhasilan reproduksi seperti ini hanya dapat terus berlanjut apabila habitatnya tetap terlindungi. "Kelahiran ini membuktikan bagaimana orang utan sebelumnya korban perdagangan satwa liar dapat memperoleh kesempatan hidup dan berkembang biak di alam. Keberhasilan seperti ini hanya dapat terus berlanjut apabila habitatnya tetap terlindungi," ujarnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perlindungan habitat dan pencegahan perdagangan satwa liar masih menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan hidup orang utan di Indonesia. Badar diharapkan tumbuh sehat dan membawa harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem hutan di Aceh.