Kabar ini muncul setelah laporan sebelumnya menyebut Microsoft berencana menutup Compulsion Games—studio di balik South of Midnight dan We Happy Few—sebagai bagian dari gelombang PHK yang lebih luas. Kini, sumber Bloomberg mengonfirmasi bahwa setidaknya empat studio telah memulai diskusi serius dengan manajemen Xbox.
Pemisahan ini bukanlah pemutusan hubungan yang bersahabat. Sumber Bloomberg menyebut negosiasi memungkinkan studio membeli kembali saham Microsoft atau mencari pendanaan dari pihak ketiga. Namun, dokumen internal menunjukkan bahwa "banyak karyawan kemungkinan besar akan kehilangan pekerjaan" sebagai konsekuensi dari kemandirian ini.
Beberapa studio bahkan telah memberi izin kepada karyawannya untuk mulai mencari pekerjaan lain. Situasi paling kritis terjadi di Ninja Theory—pengembang Hellblade—di mana The Verge melaporkan Microsoft sudah mengambil keputusan untuk menutup studio tersebut secara permanen.
Langkah drastis ini tidak lepas dari tekanan CEO Microsoft, Satya Nadella, yang baru-baru ini menekankan bahwa divisi Xbox harus mampu mandiri secara finansial. Bahkan, ada spekulasi lebih liar bahwa Microsoft mempertimbangkan untuk memisahkan Xbox menjadi perusahaan mandiri—sebuah skenario yang akan mengguncang industri game global.
Di tengah kekacauan ini, Craig Duncan, kepala Xbox Game Studios, memutuskan hengkang setelah 15 tahun mengabdi. Kepala stafnya, Louise O’Connor, juga ikut meninggalkan perusahaan. Pergantian kepemimpinan ini menambah ketidakpastian di internal divisi game Microsoft.
Jika negosiasi ini berhasil, kita akan melihat lahirnya kembali studio-studio independen yang sebelumnya menjadi bagian dari mesin besar Xbox. Double Fine, misalnya, dikenal lewat Psychonauts 2 yang kritis, sementara Ninja Theory sempat menjadi andalan Microsoft untuk konten naratif berkualitas tinggi.
Namun, harga dari kemerdekaan ini mahal: PHK massal dan hilangnya jaminan pendanaan dari Microsoft. Bagi pengembang independen di Indonesia yang bermimpi diakuisisi raksasa teknologi, kisah ini menjadi pengingat bahwa menjadi bagian dari korporasi besar bukan jaminan keamanan karier.
Belum ada pernyataan resmi dari Microsoft mengenai jumlah pasti studio yang terdampak atau timeline penyelesaian negosiasi ini. Yang jelas, babak baru Xbox sebagai penerbit game—atau mungkin sebagai perusahaan yang lebih ramping—sedang ditulis. Dan halaman pertamanya penuh dengan ketegangan.