Pawai Tahun Baru Islam 1448 H di Banda Aceh: Guru SMPN 3 Sebut Ajang Latih Kreativitas dan Tingkatkan Takwa

Penulis: Jonatan Nasution  •  Selasa, 16 Juni 2026 | 21:09:31 WIB
Pawai Tahun Baru Islam 1448 H di Banda Aceh berlangsung meriah di Lapangan Blang Padang.

BANDA ACEH — Pawai tahun baru Islam yang digelar di Lapangan Blang Padang, Selasa (16/6/2026), berhasil menyedot perhatian masyarakat. Warga berbondong-bondong hadir untuk menyaksikan langsung kemeriahan pawai yang menampilkan berbagai atraksi dan kreativitas dari para pelajar serta masyarakat umum.

Harapan Guru: Pawai Bukan Sekadar Seremonial Tahunan

Daswati, yang sehari-hari mengajar di SMPN 3 Banda Aceh, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan acara tersebut. Menurutnya, momentum tahun baru Islam harus dimanfaatkan untuk saling mengingatkan, terutama di tengah arus informasi yang deras.

"Jika acara ini tidak dibuat, masyarakat dikhawatirkan akan lupa dengan syiar Islam itu sendiri," ujar Daswati saat ditemui di lokasi pawai.

Ia menekankan bahwa kegiatan keagamaan seperti ini sangat penting diketahui oleh para siswa. "Mereka tidak hanya mengetahui tentang duniawi saja, melainkan juga mendapat pemahaman tentang akhirat," tambahnya.

Kritik soal Pengurangan Kegiatan Islami di Sekolah

Di balik euforia pawai, Daswati menyampaikan keprihatinannya kepada pemerintah. Sebagai tenaga pendidik, ia merasa sedih ketika kegiatan Islami di lingkungan sekolah justru dikurangi. Ia mencontohkan kegiatan kurban di sekolah yang kini sudah tidak diperbolehkan lagi.

"Padahal, kurban bertujuan mengajak siswa untuk berkurban dan mengajarkan kepada anak didik agar tidak hanya mengejar urusan duniawi saja," tegas Daswati.

Ia berharap pemerintah tidak hanya menyelenggarakan kegiatan pawai setiap tahun, tetapi juga mempertahankan dan meningkatkan program syiar Islam di lingkungan pendidikan formal.

Pawai Jadi Ajang Kreativitas Pelajar

Lebih dari sekadar peringatan, pawai tahun baru Islam 1448 H dinilai menjadi wadah bagi para pelajar untuk menyalurkan kreativitas. Berbagai kostum, yel-yel, dan atraksi seni Islami ditampilkan oleh peserta dari berbagai sekolah dan organisasi masyarakat di Banda Aceh.

Kegiatan ini juga menjadi pengingat kolektif bahwa nilai-nilai keagamaan harus terus dirawat di tengah modernitas. Daswati menegaskan, kegiatan positif seperti ini tidak boleh dilupakan dan harus terus didukung oleh semua pihak, termasuk pemerintah daerah.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: aceh.tribunnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top