LHOKSEUMAWE — Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid, memastikan ketersediaan stok pangan di Provinsi Aceh berada dalam kondisi aman dan mencukupi hingga akhir tahun 2026. Kepastian tersebut disampaikan usai kunjungan kerja masa sidang IV Tahun 2025–2026 ke Gudang Perum Bulog di Desa Ulee Blang Mane, Kota Lhokseumawe, Minggu (3/5/2026).
Berdasarkan data Bulog se-Aceh, cadangan beras yang tersedia saat ini mencapai 117.967 ton. Sementara itu, realisasi pengadaan dalam negeri sejak awal tahun telah menyentuh 84.635 ton atau 63,02 persen dari target yang ditetapkan. Capaian ini menunjukkan ketahanan pangan Serambi Mekkah berada pada level terkendali.
Meski stok melimpah, TA Khalid menilai penguatan sektor pangan tidak boleh hanya bertumpu pada ketersediaan barang. Ia mendorong pembangunan Rice Milling Unit (RMU) atau penggilingan padi modern di Aceh untuk menjaga kualitas hasil panen petani sekaligus meningkatkan nilai tambah produk lokal.
"Sudah saatnya Bulog Aceh memiliki RMU. Gabah kita melimpah, masa tidak ada penggilingan sendiri untuk menjaga kualitas produk," ujar TA Khalid di sela peninjauan gudang, Minggu (3/5/2026).
Keberadaan fasilitas ini dianggap vital agar Aceh tidak sekadar menjadi produsen gabah, tetapi mampu menghasilkan beras premium secara mandiri. Hal ini diprediksi akan memperkuat struktur ekonomi petani di tingkat tapak.
Selain infrastruktur penggilingan, penambahan gudang penyimpanan beras di setiap kabupaten dan kota menjadi poin krusial yang diusulkan. Langkah tersebut merupakan strategi mitigasi mengingat Aceh memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana alam yang sering memutus jalur distribusi.
"Kalau tidak ada cadangan beras saat bencana, itu bisa memicu kepanikan di masyarakat," tambahnya. Dengan sebaran gudang yang merata, cadangan logistik akan lebih mudah dijangkau saat kondisi darurat tanpa harus menunggu pengiriman dari pusat provinsi.
Politisi tersebut menekankan bahwa kemandirian pangan harus dibarengi dengan kesiapan logistik yang mumpuni. Infrastruktur yang tersebar akan meminimalisir risiko lonjakan harga saat akses transportasi terganggu akibat faktor alam.
Potensi komoditas kelapa sawit Aceh juga tak luput dari sorotan Komisi IV DPR RI. TA Khalid mendorong pembangunan fasilitas refinery atau kilang minyak untuk mengolah Crude Palm Oil (CPO) menjadi minyak goreng siap konsumsi di tanah rencong.
"Aceh melimpah CPO, tapi kenapa tidak kita olah sendiri. Kita bisa bangun refinery untuk memenuhi kebutuhan lokal, bahkan jika kompetitif bisa dijual ke daerah lain seperti Medan," katanya. Hilirisasi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pasokan minyak goreng dari luar daerah.
Pembangunan kilang pengolahan ini dinilai akan membuka lapangan kerja baru dan memperkuat perputaran ekonomi lokal. Selama ini, sebagian besar CPO Aceh masih dikirim ke luar daerah untuk diproses lebih lanjut.
Wakil Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Aceh, Alhori, menyebutkan bahwa posisi stok beras saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Bulog di Aceh. Sisa target pengadaan tahun 2026 diperkirakan masih mencapai minimal 49.654 ton.
"Stok Bulog Aceh saat ini merupakan stok tertinggi sejak Bulog Aceh berdiri," ungkap Alhori.
Merespons usulan pembangunan RMU, pihak Bulog menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti melalui koordinasi bersama pemerintah daerah. Fokus utama saat ini adalah penyediaan lahan sebagai syarat awal pembangunan infrastruktur tersebut. Prinsipnya, Bulog siap mendukung swasembada pangan Aceh yang lebih berkelanjutan.