LHOKSEUMAWE — Komandan Korem 011/Lilawangsa, Brigjen TNI Ali Imran, membacakan amanat tertulis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, Prof KH Yudian Wahyudi, dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Jenderal Sudirman, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Senin.
Dalam amanat yang dibacakannya, Danrem menekankan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan "Bintang Penuntun" yang telah membuktikan ketangguhannya. “Pancasila adalah 'Jangkar Moral' kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik,” kata Ali Imran.
Ia merujuk pada kondisi dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi. Namun, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai bangsa yang besar. “Ini adalah bukti nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17 ribu pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,” ujarnya.
Ali Imran juga menyoroti peran Indonesia di kancah global sebagai implementasi nyata nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, Indonesia terus menunjukkan kepemimpinan melalui kontribusi aktif pasukan perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selain itu, ia menyebut peran strategis Indonesia dalam mediasi konflik regional dan konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah. “Ini semua adalah bukti bahwa Pancasila bukan hanya teori, tetapi ideologi yang hidup dan bekerja,” tegasnya.
Di akhir amanatnya, Danrem mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology). Ia memperingatkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral yang jelas justru dapat menyesatkan bangsa.
“Mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan kita. Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa di Republik yang kita cintai ini,” demikian kutipan amanat yang dibacakan Brigjen TNI Ali Imran.
Peringatan Hari Lahir Pancasila di lingkungan militer, khususnya di Korem 011/Lilawangsa yang membawahi wilayah Aceh, memiliki makna strategis. Aceh merupakan daerah dengan sejarah panjang penerapan syariat Islam dan sempat mengalami konflik horizontal. Momentum ini menjadi pengingat bahwa Pancasila sebagai titik temu keberagaman tetap relevan sebagai perekat kebangsaan di tengah dinamika lokal yang khas.