ACEH — Alih-alih memanen manual dengan sabit, GNTI memperkenalkan teknologi combine harvester yang mampu memotong, merontokkan, dan membersihkan jagung dalam satu proses. Ketua Umum GNTI, Rokhmin Dahuri, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar seremoni.
“Pertanian tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga soal keberlangsungan hidup bangsa. Indonesia harus mampu mencapai kedaulatan pangan sebagai dasar menuju negara yang maju dan sejahtera,” ujarnya di lokasi panen.
Menurut Rokhmin, modernisasi alat pertanian menjadi kunci untuk menekan biaya produksi dan menarik minat generasi muda. “Kalau petani masih pakai cara lama, anak muda tidak akan tertarik. Ini soal regenerasi,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, GNTI menyerahkan bantuan pupuk serta berbagai sarana produksi pertanian kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Pesawaran. Bantuan ini diharapkan menjaga keberlanjutan usaha tani di tengah fluktuasi harga pupuk dan keterbatasan modal.
Selain bantuan fisik, dialog dengan petani jagung juga digelar untuk memetakan tantangan di lapangan, terutama soal perubahan iklim dan efisiensi produksi. “Petani butuh pendampingan, bukan cuma pupuk,” kata salah satu anggota Gapoktan setempat.
Bupati Pesawaran, Nanda, menekankan bahwa sektor pertanian merupakan tulang punggung ketahanan pangan sekaligus motor penggerak ekonomi daerah. Ia memaparkan, luas tanam jagung di Kabupaten Pesawaran hingga Mei 2026 mencapai 14.478 hektare, dengan hasil panen 64.292,3 ton.
“Pertanian adalah urusan utama rakyat sekaligus fondasi ekonomi daerah. Jika sektor ini kuat, maka kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat,” kata Nanda.
Pemerintah daerah berkomitmen memperkuat infrastruktur pertanian, bantuan sarana produksi, dan pendampingan teknologi. Nanda juga mendorong transformasi pola budidaya agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Dengan kombinasi modernisasi alat, bantuan input produksi, dan penguatan kebijakan daerah, sektor pertanian di Pesawaran diharapkan mampu menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional. Langkah ini sekaligus menjawab kebutuhan mendesak: bagaimana membuat pertanian tetap produktif di tengah cuaca ekstrem dan regenerasi petani yang mandek.