Proses roguing fase generatif I dilakukan setelah tanaman berusia 60 hari, tepat saat awal pembungaan dan pengisian bulir. Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) Pertama sekaligus Penanggung Jawab UPBS BRMP Aceh, Asis MP, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian seleksi untuk memastikan tidak ada tanaman campuran varietas lain di lahan produksi.
"Roguing fase generatif varietas Inpari 32 ini kami lakukan di Aceh Jaya, karena untuk musim tanam I ini memang hanya di daerah tersebut," kata Asis di Banda Aceh, Kamis.
Pada tahap ini, petugas mengamati karakter morfologi setiap rumpun padi secara detail. Parameter yang diperiksa meliputi panjang malai, bentuk dan warna malai, umur berbunga, bentuk bunga, serta bentuk dan warna bulir. Jika ditemukan tanaman yang menyimpang dari deskripsi varietas Inpari 32, tim langsung melakukan isolasi dengan mencabut atau memotong rumpun tanaman tersebut.
"Perbedaan karakter tanaman pada lahan produksi benih dengan varietas Inpari 32 sudah terlihat jelas pada fase ini. Maka, proses roguing ini benar-benar dilakukan dengan sangat teliti dan berulang menyusuri lahan secara sistematis," tegas Asis.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan bersama petani kooperator, tim menemukan beberapa rumpun yang tidak sesuai deskripsi varietas dan langsung mencabutnya untuk mencegah kontaminasi genetik. Selain menjaga kemurnian, roguing juga meningkatkan keseragaman pertumbuhan tanaman sehingga memudahkan pengelolaan budidaya dan mendukung hasil calon benih berkualitas tinggi.
Asis menambahkan, target panen untuk penanaman tahap pertama ini dijadwalkan pada pertengahan Juni 2026. "Target benihnya sekitar 15 ton benih sumber padi kelas benih pokok (BP)/label ungu. Perkiraan panennya pada pertengahan Juni 2026 ini," ujarnya.