SIGLI — Lahan pertanian seluas 95 hektare di Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, masih tertimbun material setebal satu meter pascabencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra pada November 2025. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, Hasballah, melaporkan bahwa lahan strategis di belakang Kantor Camat Mutiara itu masuk kategori rusak berat dan berpotensi beralih fungsi jika tidak segera ditangani.
Dalam pertemuan dengan Kepala Posko PRR Dr. Safrizal ZA di Kota Sigli, Jumat (5/6/2026), Hasballah mengungkapkan bahwa Pemkab Pidie telah menyiapkan dana transisi Rp500 juta. Namun, jumlah itu hanya cukup untuk merehabilitasi sekitar lima hektare sawah.
“Tebal tanah yang menimbun sawah mencapai satu meter, sehingga biaya rehabilitasi per hektare mencapai Rp98 juta,” jelas Hasballah. Ia menambahkan, para pemilik lahan masih berharap sawah tersebut bisa kembali produktif seperti sebelum bencana yang masuk kategori IP3 (Indeks Pertanaman 3).
Kepala Dinas PUPR Pidie, Muntahar, menyebut pemkab memiliki 10 unit alat berat yang siap digunakan, terdiri dari empat becho, satu glader, satu doser, serta truk dan trado. Safrizal ZA kemudian menghitung kebutuhan pemulihan lahan rusak berat mencapai Rp5 miliar dengan waktu pengerjaan sekitar dua bulan.
“Kita harus bergerak terlebih dahulu agar Pemerintah Pusat melihat keseriusan kita dalam memulihkan kondisi pascabencana,” ujar Safrizal. Ia meminta Bupati Pidie segera mengirim surat permohonan bantuan kepada Kasatgas PRR Pascabencana Hidrometeorologi Sumatra, Prof. Dr. Tito Karnavian.
Dalam pertemuan yang sama, Direktur Perumda PDAM Mon Krueng Baro, Wahyu, melaporkan kondisi mesin water intake yang sudah sangat uzur. Mesin tersebut merupakan bantuan era BRR NAD-Nias. Saat bencana November lalu, Pidie menjadi rest area relawan sekaligus pemasok air bersih bagi daerah terdampak lain.
Wahyu menekankan kebutuhan mesin baru berkapasitas 80 liter per detik dengan harga Rp700 juta, serta pengadaan sekitar 1.000 meteran air baru. Menanggapi hal itu, Safrizal menyarankan PDAM menggunakan kas internal untuk pengadaan meteran terlebih dahulu.
Ia juga mengungkapkan bahwa Satgas PRR telah menyalurkan masing-masing 17 ton polyaluminium chloride (PAC) jenis baru ke delapan PDAM di Aceh. Karena bahan tersebut belum pernah digunakan, Safrizal memerintahkan tim Satgas segera menyelenggarakan pelatihan teknis. “Tolong segera buatkan pelatihan agar PAC ini bisa langsung dipergunakan,” tegasnya.