BANDA ACEH — Penghargaan Garda Kemanusiaan diberikan setelah melalui proses penilaian dan kurasi terhadap sejumlah tokoh yang dinilai berkontribusi dalam penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir 2025 lalu. Ketua JMSI Aceh, Hendro Saky, mengatakan Safrizal dinilai memiliki peran penting dalam mengoordinasikan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di berbagai daerah terdampak.
Penghargaan Bukan untuk Individu, Tapi Kerja Kolektif
Dalam sambutannya, Safrizal menyampaikan bahwa penghargaan tersebut bukanlah pencapaian pribadi, melainkan hasil kerja keras seluruh pihak yang terlibat dalam proses penanganan dan pemulihan pascabencana.
“Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja keras dan dedikasi semua pihak yang tanpa lelah bekerja untuk masyarakat,” ujar Safrizal.
Ia menegaskan bahwa penanganan bencana tidak dapat dilakukan secara parsial. Menurutnya, pendekatan kolaboratif atau pentahelix yang melibatkan pemerintah, media, akademisi, komunitas, dan dunia usaha menjadi kunci keberhasilan di lapangan.
“Penanganan bencana adalah kerja kolaboratif. Karena itu penghargaan ini saya maknai sebagai representasi dari kerja bersama, bukan keberhasilan individu,” katanya.
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pemulihan Aceh
Safrizal menyebut dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, relawan, organisasi kemanusiaan, media massa hingga masyarakat menjadi faktor utama dalam percepatan pemulihan wilayah terdampak. Ia mengingatkan agar penghargaan tersebut tidak dimaknai sebagai bentuk keunggulan personal.
Malam apresiasi tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, perwakilan Korem, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), tokoh masyarakat, insan pers, serta kalangan dunia usaha. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi simbol kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pemulihan Aceh pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah di provinsi tersebut.