ACEH UTARA — Enam bulan setelah banjir bandang menerjang Kecamatan Langkahan pada akhir 2025 lalu, warga Gampong Rumoh Rayeuk masih bergulat dengan ketidakpastian. Bantuan Jaminan Hidup (Jadup) yang dijanjikan pemerintah pusat tak kunjung cair, memperparah beban warga yang harus bangkit mandiri di tengah keterbatasan.
Keuchik Gampong Rumoh Rayeuk, A’kthaillah, mengungkapkan bahwa seluruh proses pendataan dan administrasi telah rampung dan diserahkan melalui pemerintah kecamatan hingga ke pemerintah kabupaten untuk diteruskan ke pusat. Namun, realisasi bantuan tak kunjung ada.
“Warga kami sangat berharap dan mendesak pemerintah pusat untuk segera mengambil tindakan nyata. Kami butuh kejelasan kapan bantuan Jaminan Hidup (Jadup) ini dicairkan. Sejak banjir enam bulan lalu, belum ada realisasi sama sekali terkait bantuan tersebut,” kata A’kthaillah, Sabtu (6/6/2026).
Tak hanya soal bantuan hidup, warga juga dihadapkan pada kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan. Puluhan rumah yang rusak parah akibat banjir belum diperbaiki. Kini, hunian sementara (huntara) yang mereka tempati pun ikut rusak setelah diterjang angin kencang beberapa waktu lalu.
Akibatnya, sebagian korban masih harus mengungsi ke rumah sanak keluarga. A’kthaillah menambahkan, warga setiap hari menanyakan kepastian masa depan tempat tinggal mereka—apakah pemerintah akan memperbaiki huntara yang rusak atau justru mempercepat pembangunan hunian tetap (huntap).
“Masyarakat setiap hari bertanya kepada saya, kapan Jadup cair dan sudah sampai mana prosesnya. Karena kondisi masyarakat sekarang sangat memprihatinkan. Rumah sudah hancur karena banjir, sekarang huntara juga rusak karena angin kencang,” pungkas A’kthaillah.
Pihak gampong mendesak agar birokrasi dan administrasi penyaluran bantuan tidak berbelit-belit. Warga Langkahan, khususnya di Gampong Rumoh Rayeuk, membutuhkan kepastian agar mereka bisa menata kembali kehidupan dengan normal. Kehadiran pemerintah pusat sangat dinantikan untuk membantu memperbaiki rumah-rumah warga yang terdampak.