BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Juli-September 2026, 369 Zona Musim Terdampak pada Agustus

Penulis: Ricki Manurung  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 14:47:31 WIB
BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi Juli hingga September 2026 dengan 369 zona musim terdampak pada Agustus.

ACEH — Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa El Nino diprediksi terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas moderat mencapai 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Dampaknya terhadap Indonesia diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Oktober, bertepatan dengan puncak musim kemarau.

Puncak Kemarau Bertahap: Juli hingga September

Berdasarkan data resmi BMKG, puncak kemarau pada Juli 2026 mencakup 83 ZOM atau 12,26 persen luas daratan. Wilayah yang terdampak meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, serta beberapa titik di Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Pada Agustus, puncak kemarau meluas ke 369 ZOM yang mencakup Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, dan hampir seluruh Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta Papua. Sementara September menyusul dengan 169 ZOM (25,41 persen), meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan dan Lampung, serta wilayah timur Indonesia.

El Nino Perpanjang Musim Kering, Ancaman Karhutla Meningkat

Ardhasena menekankan bahwa pertemuan El Nino dengan periode musim kemarau hingga Oktober memerlukan penyesuaian ekstra di berbagai sektor. "BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen," ujarnya dalam keterangan resmi.

BMKG mengimbau pemerintah daerah menyiapkan mekanisme respons cepat untuk mengantisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA. Kesiapsiagaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga perlu ditingkatkan melalui koordinasi dengan pemangku kepentingan, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Wilayah yang Sudah Masuk Musim Kemarau

Hingga akhir Mei 2026, BMKG mencatat sebanyak 200 ZOM (11,83 persen luas daratan) telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara, Kalimantan Tengah bagian timur, serta sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Pada Juni, musim kemarau diprediksi meluas ke sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian besar Banten, DKI Jakarta bagian selatan, Jawa Tengah bagian tengah dan barat, serta sebagian besar Kalimantan Timur dan Tengah. Sejumlah wilayah di Sulawesi, Maluku, dan Papua Barat juga akan menyusul.

Rekomendasi BMKG untuk Sektor Pangan dan Energi

Menghadapi kondisi ini, BMKG merekomendasikan pelaku sektor pangan untuk menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan serta memiliki siklus tanam lebih pendek. Untuk sektor sumber daya air, revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air menjadi prioritas.

Pelaku sektor energi diminta memastikan kapasitas air bendungan untuk operasional PLTA. BMKG juga mengingatkan bahwa risiko karhutla meningkat signifikan pada musim kemarau yang lebih kering dari normal, sehingga koordinasi lintas instansi untuk pencegahan harus diperkuat sejak sekarang.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top