BANDA ACEH — Pemeriksaan kesehatan terhadap jamaah haji asal Aceh tidak berhenti di Asrama Haji. PPIH Embarkasi Aceh Bidang Kesehatan memastikan proses monitoring berlanjut hingga 14 hari setelah para jamaah kembali ke daerah masing-masing.
Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas 1 Banda Aceh, Ali Isha Wardana, mengatakan langkah antisipasi ini menyasar penyakit endemis dan virus yang mungkin dibawa jamaah dari Arab Saudi. “Nanti para jamaah haji dilakukan beberapa pengambilan sampel dan sebagainya. Tentu seperti SOP yang kita lakukan, saya kira itu untuk penanganan penyakit,” ujarnya di Banda Aceh, Senin.
Setibanya di embarkasi, tim kesehatan langsung memeriksa suhu tubuh setiap jamaah. Batas aman yang ditetapkan adalah 38 derajat Celcius. Jika suhu melebihi ambang batas, jamaah akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Jadi indikator pertama adalah suhu, kegiatan ini untuk mencari beberapa penyakit tadi,” kata Ali. PPIH juga telah menggandeng Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Banda Aceh untuk meneliti sampel jika ditemukan gejala mencurigakan. “Ketika ada gejala dan sebagainya nanti kita ambil sampel. Dan kita sudah siapkan spesimen-spesimen untuk Hantavirus, Covid dan sebagainya,” tambahnya.
Untuk penanganan awal, PPIH Embarkasi Aceh telah menyiapkan ruang medis terpisah untuk jamaah laki-laki dan perempuan, serta tempat isolasi di lingkungan Asrama Haji. Jika kondisi jamaah memburuk, mereka akan langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainoel Abidin Banda Aceh.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, menegaskan bahwa pemantauan tidak hanya berlangsung di asrama. “Jadi untuk kesehatan para jamaah dipantau selama 14 hari, dibantu oleh tenaga kesehatan dari seluruh Puskesmas di Aceh. Jika ada kendala berat, bisa langsung dirujuk ke RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh,” jelas Ferdiyus.
Ribuan jamaah haji asal Aceh yang mulai pulang ke kampung halaman akan diawasi oleh tenaga kesehatan di puskesmas masing-masing. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada penularan penyakit menular yang luput dari deteksi awal. Dengan sistem berlapis ini, pemerintah berharap potensi penyebaran virus dapat diminimalkan sejak dini.