SUKA MAKMUE — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda dua kecamatan di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, terus meluas. BPBD setempat mencatat luas lahan gambut yang terbakar kini mencapai 17 hektare dan masih berpotensi bertambah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Nagan Raya, Irfanda Rinaldi, mengatakan api pertama kali dilaporkan pada Sabtu (30/5) pagi pukul 09.20 WIB. Namun, kobaran api diduga kuat sudah mulai menjalar sejak sehari sebelumnya, Jumat (29/5/2026).
Dua Desa Terdampak, Satu Titik Masih Sulit Dipadamkan
Lokasi kebakaran berada di dua titik. Pertama di Gampong Kaye Unoe, Kecamatan Darul Makmur. Kedua di Gampong Babah Lueng, Kecamatan Tripa Makmur.
Dari kedua lokasi itu, kondisi di Tripa Makmur disebut lebih sulit. Tim pemadam masih berjuang menjangkau titik api yang terus merambat.
Suhu 32 Derajat dan Angin Kencang Memperparah Situasi
Irfanda menjelaskan, cuaca ekstrem menjadi kendala utama. Suhu udara di lokasi mencapai 32 derajat Celsius, sementara angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan sekitar 15 km/jam.
“Kondisi di lokasi kebakaran lahan saat ini sangat ekstrem dan sulit dilakukan upaya pemadaman, sehingga kebakaran diperkirakan masih bisa meluas,” kata Irfanda kepada ANTARA, Senin di Suka Makmue.
Selain faktor angin yang membuat api cepat menyebar, tim gabungan di lapangan juga menghadapi kendala terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kejadian, sehingga pemadaman api ikut terkendala.
Dua Pompa Air Portabel Dikerahkan, Tim Gabungan Terus Berjibaku
BPBD Nagan Raya telah mengerahkan dua unit mesin pompa air portabel ke titik api. Upaya pemadaman dilakukan secara sinergis oleh tim gabungan yang terdiri dari personel Satgas BPBD Nagan Raya, Polres Nagan Raya, dan Kodim Nagan Raya.
“Kami terus berupaya melakukan pemadaman dan menyekat sebaran api, sehingga diharapkan jilatan api di dua lokasi kebakaran lahan tidak semakin meluas,” ujar Irfanda.
Apa yang Membuat Api di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan?
Kebakaran lahan gambut dikenal sulit dipadamkan karena api merambat di bawah permukaan tanah. Kondisi ini diperparah dengan musim kemarau yang membuat permukaan gambut kering dan mudah terbakar.
Di Nagan Raya, kombinasi antara suhu tinggi, angin kencang, dan minimnya akses air membuat upaya pemadaman berjalan lambat. Tim gabungan masih berjibaku di lapangan hingga Senin sore.