BANDA ACEH — Enam kursi jamaah haji asal Aceh dipastikan kosong setelah calon yang bersangkutan batal berangkat ke Arab Saudi. Ketua PPIH Embarkasi Banda Aceh, Arijal, mengatakan pembatalan terjadi karena jamaah meninggal dunia, sakit parah, hingga suami yang mendampingi meninggal sehingga sang istri tidak bisa berangkat.
“Kursi yang kosong tersebut tidak bisa lagi digantikan oleh jamaah lain,” kata Arijal, Senin (11/5/2026).
Penyebabnya, batas akhir pembuatan visa telah berakhir. Enam kursi itu pun menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang yang tak sempat ditempuh oleh para calon jamaah.
Hingga saat ini, sebanyak 2.352 jamaah haji asal Aceh telah tiba di Tanah Suci. Mereka tergabung dalam enam kelompok terbang (kloter) dari total 5.426 jamaah yang akan diberangkatkan melalui 14 kloter.
Kloter 1 yang tergabung dalam gelombang pertama saat ini masih berada di Madinah. Sementara itu, jamaah kloter 2 hingga kloter 6 yang masuk gelombang kedua telah berada di Mekkah.
“Kloter 1 saat ini berada di Madinah, InsyaAllah Kamis depan mereka akan berangkat menuju Mekkah Al Muakarramah,” ujar Arijal.
Kloter 7 dijadwalkan bertolak ke Tanah Suci pada Selasa (12/5/2026) pukul 11.40 WIB dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar. Mereka akan terbang menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.
Jamaah kloter 7 berasal dari empat daerah: Aceh Timur, Pidie, Aceh Utara, dan Banda Aceh. Pelepasan dilakukan oleh Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, pada Senin (11/5/2026) sore di Asrama Haji Embarkasi Aceh.
Dalam sambutannya, Iskandar berpesan agar para jamaah menanggalkan identitas kedaerahan. “Tidak ada lagi istilah jamaah Aceh Timur atau daerah lain. Semua bersatu atas nama Jamaah Aceh. Harus saling membantu dan saling menjaga,” pesannya.
Ia juga meminta doa dari para jamaah untuk masyarakat dan pemerintah Aceh Timur agar diberikan kekuatan dalam menjalankan amanah. “Doakan Aceh dan khususnya Aceh Timur, agar para pemimpinnya mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik, dijauhkan dari fitnah, termasuk fitnah di media sosial maupun fitnah berbasis AI yang bisa membunuh karakter seseorang,” kata Iskandar.