Pencarian

Rupiah Tembus Rp 17.724 per Dolar AS, Level Terlemah Sepanjang Sejarah di Tengah Ekspektasi Kenaikan BI Rate

Selasa, 19 Mei 2026 • 10:46:02 WIB
Rupiah Tembus Rp 17.724 per Dolar AS, Level Terlemah Sepanjang Sejarah di Tengah Ekspektasi Kenaikan BI Rate
Rupiah melemah ke level Rp 17.724 per dolar AS, rekor terendah sepanjang sejarah.

ACEH — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh level terlemah dalam sejarah pada perdagangan Selasa (19/5). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 13 poin di level Rp 17.681 per dolar AS dan terus merosot hingga menyentuh Rp 17.724 pada pukul 10.24 WIB. Sepanjang tahun berjalan, depresiasi rupiah telah mencapai 6,25%.

Tekanan Eksternal dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meredanya kekhawatiran perang dagang global setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran. Namun, sentimen positif itu tidak cukup kuat menopang mata uang Asia. Mayoritas mata uang regional ikut tertekan: won Korea Selatan melemah 0,74%, baht Thailand 0,18%, dan yen Jepang 0,08%.

Analis Doo Financial Lukman Leong menilai, pelaku pasar justru lebih fokus pada kondisi domestik yang dinilai masih lemah. “Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi,” ujar Lukman. Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Implikasi bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Bagi perusahaan yang memiliki pinjaman dalam denominasi dolar AS, pelemahan rupiah ini berarti beban bunga dan pokok utang membengkak secara signifikan. Sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor juga akan merasakan tekanan biaya produksi yang meningkat. Di sisi lain, emiten berbasis ekspor komoditas justru bisa diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Investor pasar modal perlu mencermati sektor perbankan dan properti yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga. Jika BI benar menaikkan BI rate, likuiditas perbankan bisa menyempit dan suku bunga kredit berpotensi naik, menekan margin laba emiten di sektor tersebut.

Mengapa Level Ini Krusial bagi Perekonomian Nasional

Tembusnya level Rp 17.700 per dolar AS bukan sekadar angka psikologis. Dalam konteks makroekonomi, pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat memicu imported inflation—kenaikan harga barang impor yang akhirnya membebani daya beli masyarakat. BI memiliki tugas ganda: menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi. Keputusan menaikkan suku bunga menjadi pilihan pahit yang mungkin harus diambil meskipun berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Perbandingan dengan Pelemahan Sebelumnya

Level Rp 17.724 per dolar AS melampaui titik terendah sebelumnya yang terjadi saat krisis 1998 dan tekanan pandemi 2020. Perbedaannya, saat ini tekanan berasal dari kombinasi penguatan dolar global pasca-kebijakan suku bunga tinggi AS serta kerentanan fundamental domestik seperti defisit transaksi berjalan dan menipisnya cadangan devisa. Tanpa intervensi yang kredibel, pelemahan berpotensi berlanjut.

FAQ: Dampak Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat

Apakah harga barang akan naik karena rupiah melemah?
Ya, terutama barang-barang yang menggunakan bahan baku impor seperti elektronik, kosmetik, dan obat-obatan. Harga pangan impor seperti gandum dan kedelai juga berpotensi naik, mempengaruhi harga tepung, mi instan, dan tahu tempe.

Apa yang bisa dilakukan investor untuk melindungi portofolio?
Investor bisa mengalokasikan sebagian aset ke instrumen valas, emas, atau saham emiten berorientasi ekspor. Obligasi negara berdenominasi dolar AS juga bisa menjadi pilihan, meskipun risikonya tetap terkait dengan pergerakan kurs. Investasi mengandung risiko.

Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks