ACEH — Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada awal bulan ini tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga melumpuhkan denyut nadi ekonomi warga: lahan pertanian. Data sementara mencatat sedikitnya 300 hektare sawah mengalami kerusakan, dengan tingkat keparahan bervariasi dari tertimbun material hingga tererosi. Proyek rehabilitasi yang dikerjakan oleh BBWS Sumatera I bersama Dinas Pertanian setempat kini mulai berjalan, menargetkan pemulihan fungsi lahan sebelum musim tanam berikutnya.
Kerusakan Tak Merata, Prioritas pada Lahan Produktif
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Tamiang, Syahbuddin, mengatakan kerusakan lahan tidak seragam. Sebagian besar sawah di tiga kecamatan terdampak—Kejuruan Muda, Karang Baru, dan Sekerak—tertimbun endapan lumpur setebal 20 hingga 50 sentimeter. “Ada lahan yang masih bisa diselamatkan dengan pembersihan ringan, tapi ada juga yang struktur tanahnya hilang sama sekali,” ujarnya dalam rapat koordinasi penanganan bencana, Kamis (12/10).
Tim teknis dari BBWS memetakan area kritis yang membutuhkan normalisasi irigasi. Saluran tersier dan sekunder di beberapa titik tersumbat material kayu dan batu, menghambat aliran air ke sawah yang masih bisa ditanami. Proses pengerukan menggunakan alat berat sudah dimulai di Desa Perkebunan Gelugur Langkat, salah satu sentra padi di wilayah itu.
Gagal Panen dan Ancaman Krisis Bibit
Banjir bandang yang dipicu hujan ekstrem pada 28 September lalu menghantam saat ribuan petak sawah tengah memasuki fase generatif. Akibatnya, petani di Desa Kampung Durian dan sekitarnya kehilangan hasil panen yang tinggal dua minggu lagi. “Saya rugi sekitar Rp 15 juta untuk satu hektare, padahal bibit dan pupuk sudah dihabiskan,” kata Saman, petani di Kecamatan Kejuruan Muda.
Selain pemulihan lahan, pemerintah kabupaten menyiapkan bantuan benih padi varietas unggul tahan rendaman untuk mempercepat tanam ulang. Namun, distribusi benih masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap kandungan lumpur di lahan. Jika tanah masih mengandung residu limbah rumah tangga atau bahan kimia berbahaya, petani diminta tidak menanam hingga kondisi benar-benar aman.
Butuh Waktu 2-3 Bulan, Anggaran Rehabilitasi Terbatas
Kepala BBWS Sumatera I, Mawardi, menyebut rehabilitasi lahan sawah akan berlangsung bertahap dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Prioritas pertama adalah membersihkan saluran irigasi dan memperbaiki tanggul yang jebol. “Anggaran yang tersedia untuk Aceh Tamiang sekitar Rp 5 miliar, itu hanya cukup untuk pekerjaan darurat,” jelasnya.
Ia menambahkan, rehabilitasi total lahan pertanian membutuhkan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk dukungan tambahan. Sebab, kerusakan di sektor pertanian tidak hanya berupa sawah, tetapi juga infrastruktur pendukung seperti jalan usaha tani dan jembatan kecil yang putus diterjang arus.
FAQ: Dampak Banjir pada Sektor Pertanian
Apakah lahan sawah yang tertimbun lumpur masih bisa ditanami?
Ya, asalkan lumpur tidak mengandung kontaminan berbahaya. Proses pembersihan dan pembajakan ulang diperlukan untuk mengembalikan struktur tanah. Jika lumpur terlalu tebal, petani perlu menambahkan pupuk organik untuk memperbaiki aerasi tanah.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan total?
Untuk lahan yang rusak ringan hingga sedang, pemulihan bisa selesai dalam satu musim tanam (sekitar 3-4 bulan). Namun, lahan yang mengalami erosi berat atau kehilangan lapisan top soil bisa membutuhkan waktu lebih dari satu tahun dan intervensi teknis khusus.