7 Kuliner Khas Aceh yang Paling Dicari Wisatawan, Wajib Coba Lengkap dengan Harga

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 20:44:01 WIB
Mi Aceh Titi Bobrok di Banda Aceh menjadi ikon kuliner dengan cita rasa kari pekat dan daging kambing.

Banda Aceh bukan cuma soal sejarah Tsunami atau Masjid Raya Baiturrahman. Kota ini juga surga bagi perantau dan wisatawan yang haus rasa. Setiap sudutnya menyimpan warung legendaris yang sudah beroperasi puluhan tahun, tanpa banyak gembar-gembor di media sosial. Saya sendiri, setiap kali pulang kampung, selalu mampir ke tempat-tempat ini—bukan karena viral, tapi karena rasanya konsisten sejak saya kecil.

Berikut tujuh kuliner khas Aceh yang paling sering diburu wisatawan. Saya urutkan dari yang paling ikonik hingga camilan wajib bawa pulang. Semua harga yang tercantum adalah harga rata-rata per porsi di Februari 2026.

1. Mi Aceh Titi Bobrok — Legenda di Ujung Jalan

Mi Aceh Titi Bobrok di Jalan T. Nyak Arief, persis di seberang Masjid Jami' Baiturrahim, sudah jadi patokan rasa mi aceh sejak era 1980-an. Tekstur mi-nya kenyal, bumbu kari-nya pekat, dan porsi daging kambingnya bikin kenyang setengah hari.

Harga per porsi mulai Rp 35.000 hingga Rp 50.000 tergantung level pedas dan tambahan topping. Warung buka dari pukul 16.00 WIB sampai habis, biasanya ludes sebelum pukul 21.00. Tips dari saya: pesan setengah matang biar mi-nya lebih kenyal, dan jangan lupa tambahkan acar bawang merah.

2. Nasi Gurih Mami — Sarapan Wajib Sebelum Jalan-jalan

Berbeda dengan nasi gurih versi Medan, nasi gurih Aceh punya aroma daun pandan dan santan yang lebih ringan. Salah satu yang paling dicari adalah Nasi Gurih Mami di kawasan Peunayong, dekat Pasar Atjeh. Lauk andalannya: sambal udang rebon, telur dadar tipis, dan dendeng sapi manis.

Satu porsi lengkap dengan lauk dan kerupuk dihargai Rp 20.000 sampai Rp 30.000. Warung ini buka jam 07.00 pagi dan biasanya ramai sampai pukul 10.00. Datanglah sebelum jam 08.00 jika ingin menikmati nasi gurih tanpa antre panjang.

3. Sate Matang — Bukan Sate Biasa, Ini Sate Kambing Muda

Sate Matang terkenal karena menggunakan daging kambing muda yang dimarinasi dengan rempah khas Aceh: jahe, kunyit, dan serai. Pusatnya ada di Kecamatan Matang, Kabupaten Bireuen, tapi di Banda Aceh kamu bisa menemukan versi tak kalah enak di Sate Matang H. M. Yatim di Jalan Sultan Malikul Saleh, Lampriet.

Sepuluh tusuk sate dengan lontong dan kuah kecap pedas dibanderol Rp 45.000 hingga Rp 60.000. Warung buka dari sore hingga malam, sekitar pukul 17.00 sampai 22.00 WIB. Jangan lupa minta sambal hijau—pedasnya bikin nagih.

4. Kuah Beulangong — Gulai Daging Khas Pidie yang Wajib Dicoba

Kuah Beulangong sebenarnya gulai daging sapi atau kerbau yang dimasak dengan kacang tanah dan bumbu halus. Tapi yang bikin beda: proses memasaknya memakan waktu hingga 4 jam di atas tungku kayu. Tekstur dagingnya empuk, kuahnya kental dan sedikit berminyak—cocok dimakan dengan nasi hangat atau ketupat.

Paling mudah ditemukan di Rumah Makan Beulangong Ibu Zubaidah di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh. Satu porsi nasi dengan kuah beulangong dan daging lumayan banyak dihargai Rp 35.000. Buka dari jam 11.00 siang hingga malam.

5. Timphan — Camilan Manis yang Selalu Diburu

Timphan bukan sekadar kue. Ini adalah simbol budaya Aceh yang selalu ada di acara adat, dari kenduri hingga pernikahan. Dibuat dari pisang dan tepung ketan, dibungkus daun pisang, lalu dikukus. Isiannya bisa pisang, srikaya, atau durian.

Di Banda Aceh, timphan paling enak bisa dibeli di Pasar Aceh (Pasar Atjeh) bagian depan, dekat penjual kopi. Satu bungkus berisi 5-6 potong dihargai Rp 15.000 sampai Rp 25.000. Tahan sampai 3 hari di suhu ruang, cocok dijadikan oleh-oleh.

6. Kopi Sanger — Minuman yang Tak Pernah Sepi Peminat

Kopi sanger adalah kopi susu khas Aceh, beda dengan kopi susu kekinian yang pakai gula aren. Kopi sanger asli dibuat dari bubuk kopi robusta Gayo yang diseduh dengan air panas, lalu dicampur susu kental manis dan sedikit gula. Rasanya pahit manis dengan aroma tanah yang kuat.

Kedai kopi legendaris yang wajib disinggahi: Kopi Solong di Jalan Teuku Umar, atau Kopi Aroma di Jalan Ahmad Yani. Satu cangkir kopi sanger dihargai Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Kedai buka dari pagi hingga larut malam, bahkan Kopi Solong buka 24 jam.

7. Ayam Tangkap — Gorengan Khas yang Bikin Kangen

Ayam tangkap bukan ayam yang ditangkap, melainkan ayam goreng yang dimasak dengan bumbu kunyit dan lengkuas, lalu digoreng bersama daun kari dan cabai hijau utuh. Daun kari yang digoreng kering jadi bagian paling nikmat—renyah dan aromatik.

Tempat paling populer adalah Ayam Tangkap Ibu Ainal di Jalan T. Panglima Nyak Makam, persis di seberang Stadion Harapan Bangsa. Satu ekor ayam untuk 2-3 orang dihargai Rp 80.000 hingga Rp 100.000. Buka dari jam 10.00 pagi sampai pukul 21.00 WIB. Lebih enak dimakan dengan nasi putih hangat dan sambal terasi mentah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa kuliner paling ikonik di Aceh?
Mi Aceh dan Sate Matang. Mi Aceh terkenal karena bumbu kari kental dan porsi daging melimpah, sementara Sate Matang jadi favorit karena daging kambing mudanya yang empuk.

2. Berapa kisaran harga makanan di Banda Aceh?
Untuk satu porsi makanan utama, umumnya antara Rp 30.000 hingga Rp 60.000. Minuman seperti kopi sanger atau teh tarik mulai dari Rp 8.000.

3. Apakah semua makanan halal di Aceh?
Ya, Aceh menerapkan syariat Islam secara ketat. Semua rumah makan dan warung dijamin halal. Tidak ada babi atau alkohol di menu.

4. Di mana tempat terbaik mencicipi kopi Gayo di Banda Aceh?
Kopi Solong dan Kopi Aroma adalah dua kedai legendaris yang menyajikan kopi Gayo asli. Keduanya buka 24 jam dan selalu ramai.

5. Apa oleh-oleh khas Aceh yang paling dicari?
Timphan dan kopi bubuk Gayo. Timphan tahan sampai 3 hari, sementara kopi bubuk Gayo bisa bertahan berbulan-bulan jika disimpan di wadah kedap udara.

Dari mi aceh yang pedas hingga timphan yang legit, setiap hidangan di Aceh punya cerita dan rasa yang tidak bisa ditiru daerah lain. Tidak perlu takut salah pilih—semua warung yang sudah disebutkan di atas sudah teruji oleh waktu dan lidah warga lokal. Selamat makan, jangan lupa bawa pulang kopi Gayo untuk kenang-kenangan.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Back to top