Studi Baru Ungkap 58 Orangutan Tapanuli Tewas Akibat Longsor November 2025, 7% Populasi Global Lenyap

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 15:24:01 WIB
Longsor besar di Blok Barat Batang Toru menyebabkan kematian 58 individu Orangutan Tapanuli pada November 2025.

ACEH — Tim peneliti yang dipimpin Erik Meijaard, Managing Director Borneo Futures, mengungkapkan analisis citra satelit menunjukkan lebih dari 8.000 hektare hutan primer di Blok Barat Batang Toru rusak akibat longsor. Dari kerusakan itu, diperkirakan 58 individu Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) menjadi korban.

Ancaman di Luar Perburuan dan Fragmentasi

"Kami awalnya mengira ada kesalahan data karena terlihat area yang tampak seperti genangan di dalam hutan primer. Setelah memperoleh citra yang lebih rinci, kami menyadari bahwa area tersebut sebenarnya merupakan lahan terbuka akibat longsor besar," ujar Meijaard dalam siaran pers yang diterima Rabu (10/6/2026).

Angka kematian ini melampaui batas toleransi tahunan spesies yang bereproduksi sangat lambat. "Orangutan bereproduksi sangat lambat, hanya sekitar satu anak setiap tujuh tahun. Kehilangan sebesar ini jauh melampaui tingkat kematian tahunan yang dapat ditoleransi spesies tersebut," kata Meijaard.

Krisis Iklim Jadi Tekanan Baru yang Tak Terduga

Founder Orangutan Information Centre (OIC), Panut Hadisiswoyo, mengonfirmasi longsor menghantam Blok Barat yang menampung lebih dari 500 individu. Tim OIC saat ini masih melakukan verifikasi lapangan dan melaporkan sedikitnya 15 jalur survei orangutan rusak parah.

"Kita bisa mengurangi tekanan dari perburuan atau perambahan, tetapi kejadian cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim kini menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup Orangutan Tapanuli," kata Panut.

Atribusi Iklim: Intensitas Hujan Meningkat 10-50 Persen

Profesor Friederike Otto, ilmuwan iklim dari Imperial College London, memimpin studi atribusi untuk mengukur peran perubahan iklim. Hujan deras pada 26-27 November 2025 dipicu Siklon Tropis Senyar, La Niña, dan Indian Ocean Dipole (IOD). Namun, analisis menunjukkan pemanasan global buatan manusia memperparah intensitasnya.

"Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia telah meningkatkan intensitas hujan ekstrem di kawasan ini sekitar 10 hingga 50 persen dibandingkan kondisi tanpa pemanasan global," ujar Otto. Peristiwa serupa diperkirakan terjadi sekali dalam 70 tahun, namun peluangnya terus meningkat seiring suhu global naik.

Konektivitas Habitat Jadi Kunci Penyelamatan

Profesor Serge Wich, primatolog dari Liverpool John Moores University, menekankan perlunya pemulihan konektivitas lanskap Batang Toru. Populasi orangutan saat ini terpecah dalam kantong-kantong habitat terisolasi, membatasi pergerakan dan pertukaran genetik.

"Akan sangat ideal jika ada rencana aksi skala lanskap yang menghubungkan kembali kawasan hutan yang terfragmentasi sehingga populasi orangutan menjadi lebih tangguh menghadapi ancaman di masa depan," ujar Wich.

Studi ini menjadi peringatan dini bahwa krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati adalah dua sisi mata uang yang sama. Tanpa pengendalian emisi gas rumah kaca, bencana serupa diprediksi akan lebih sering terjadi, mengancam masa depan spesies endemik Sumatera Utara ini.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Back to top