Oracle mencatat pendapatan kuartal keempat sebesar USD 19,18 miliar, tumbuh 21% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini sedikit di atas estimasi analis yang memproyeksikan USD 19,10 miliar. Laba per saham yang disesuaikan juga lebih tinggi dari target, mencapai USD 2,03 versus perkiraan USD 1,96.
Divisi cloud infrastruktur Oracle menjadi bintang di kuartal ini, dengan lonjakan pendapatan sebesar 93% menjadi USD 5,8 miliar. Namun, angka itu seolah tak terdengar di tengah kekhawatiran yang lebih besar: bagaimana perusahaan akan membayar semua ambisi ini?
Oracle mengumumkan rencana untuk menggalang dana tambahan senilai USD 40 miliar melalui utang dan ekuitas. Langkah ini terjadi setelah perusahaan sebelumnya sudah mengumpulkan USD 43 miliar dari utang dan USD 5 miliar dari ekuitas pada fiskal 2026.
Total belanja modal Oracle kini mencapai USD 55,7 miliar. Ironisnya, arus kas bebas perusahaan justru berada di zona merah, minus USD 23,7 miliar. Kombinasi ini menimbulkan pertanyaan serius di kalangan investor soal keberlanjutan strategi ekspansi yang dijalankan.
Investor tampaknya menilai bahwa pertumbuhan pendapatan yang ada belum cukup untuk mengimbangi risiko dari pembengkakan utang. Reaksi pasar ini mirip dengan pola yang sebelumnya terlihat pada saham perusahaan teknologi lain yang terlalu agresif dalam belanja infrastruktur AI.
Kasus Oracle menunjukkan bahwa sekadar mengalahkan target pendapatan kuartalan tidak lagi menjadi jaminan bagi investor di era AI. Yang kini menjadi pusat perhatian adalah efisiensi belanja modal dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas positif dari investasi besar-besaran tersebut.
Bagi perusahaan teknologi di Indonesia yang tengah merancang strategi adopsi AI, momentum ini bisa menjadi bahan evaluasi. Ekspansi infrastruktur cloud dan AI memang penting, tetapi tanpa disiplin fiskal yang jelas, pasar bisa bereaksi keras — bahkan ketika angka pendapatan utama terlihat gemilang.