Abu Mudi Serukan Aceh Merdeka dari Kejahilan, Ilmu Tiga Cabang Jadi Kunci di Pengajian Akbar Langsa

Penulis: Jonatan Nasution  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 13:46:01 WIB
Abu Mudi menyampaikan pentingnya kemerdekaan dari kejahilan di pengajian akbar Langsa.

"Cita terbesar saya, Aceh harus merdeka dari kejahilan," ujar Abu Mudi yang langsung disambut antusias oleh jamaah yang memadati area masjid. Ia menegaskan bahwa makna kemerdekaan tidak terbatas pada lepas dari penjajahan atau ketertinggalan infrastruktur. Kemerdekaan hakiki, kata dia, adalah ketika masyarakat memiliki ilmu pengetahuan yang cukup, memahami agama dengan benar, dan menjalani hidup sesuai tuntunan syariat Islam.

Tiga Ilmu Wajib yang Tidak Boleh Dipisahkan

Pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu menjelaskan bahwa setiap muslim wajib mempelajari tiga cabang ilmu dasar. Ketiganya adalah tauhid, fikih, dan tasawuf. Menurut Abu Mudi, ilmu-ilmu ini menjadi fondasi untuk membentuk pribadi muslim yang kuat akidahnya, benar ibadahnya, serta mulia akhlaknya.

"Tauhid membimbing kita mengenal Allah dengan benar, fikih mengajarkan tata cara ibadah dan muamalah, sedangkan tasawuf membentuk akhlak dan membersihkan hati. Ketiganya tidak boleh dipisahkan," jelasnya di hadapan para jamaah.

Gerakan Tastafi: Benteng Umat di Era Digital

Abu Mudi yang juga dikenal sebagai pendiri gerakan Tasawuf, Tauhid, dan Fikih (Tastafi) menuturkan bahwa gerakan ini lahir dari ikhtiar ulama Aceh memperkuat pemahaman keislaman berdasarkan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Ia menilai keberadaan majelis ilmu kini semakin krusial di tengah arus informasi yang deras dan beragam pemahaman keagamaan di media sosial.

"Majelis ilmu merupakan benteng umat. Selama masyarakat dekat dengan ulama dan mencintai ilmu, insya Allah Aceh akan tetap terjaga sebagai negeri yang berpegang teguh kepada ajaran Islam," katanya.

Warisan 'Beut Seumeubeut' dari Abuya Abon Aziz

Dalam tausiahnya, Abu Mudi juga menyampaikan amanah dari gurunya, almarhum Tgk. H. Abdul Aziz Samalanga, pimpinan Dayah MUDI sebelumnya. Salah satu pesan yang terus diwariskan adalah pentingnya menjaga budaya beut seumeubeut—belajar dan mengajar. Tradisi ini, menurutnya, telah menjadi ruh pendidikan dayah di Aceh selama berabad-abad.

"Almarhum Abuya Abon Aziz selalu berpesan agar kita terus menghidupkan beut seumeubeut. Selama masyarakat mau belajar dan para guru terus mengajar, maka kejahilan akan dapat dilawan dan peradaban akan terus terjaga," ungkap Abu Mudi.

Investasi Terbesar Bukan Infrastruktur, tapi Manusia

Abu Mudi menekankan bahwa investasi terbesar bagi masa depan Aceh bukanlah pembangunan fisik semata. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak jauh lebih penting. Ia meyakini jika masyarakat berilmu, beriman, dan berakhlak, berbagai persoalan sosial dapat diminimalkan.

"Pembangunan fisik memang penting, tetapi pembangunan manusia jauh lebih penting. Dari sinilah lahir kemajuan yang sesungguhnya," ujarnya.

Pengajian Akbar Tastafi-Huda tersebut turut dihadiri unsur ulama, umara, akademisi, serta berbagai lapisan masyarakat. Ribuan jamaah mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat sejak awal hingga akhir acara. Abu Mudi berharap semangat menuntut ilmu terus tumbuh dan Aceh dapat benar-benar merdeka dari kejahilan.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: nukilan.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top