Mahasiswa UGM Hentikan Diskusi Pancasila, Desak Pemerintah Tegakkan Keadilan

Penulis: Jonatan Nasution  •  Rabu, 17 Juni 2026 | 11:31:01 WIB
Mahasiswa UGM hentikan diskusi Pancasila setelah protes keras terkait penegakan keadilan.

ACEH — Diskusi yang menghadirkan Budiman Sudjatmiko dan sejumlah akademisi itu berlangsung ricuh. Mahasiswa dari berbagai fakultas meneriakkan protes dan mempertanyakan relevansi pembahasan Pancasila di tengah situasi bangsa yang mereka nilai timpang. "Pancasila mana maksudnya? Yang kami lihat justru rakyat kecil terus dikriminalisasi," teriak salah satu demonstran di tengah acara.

Protes Berujung Penghentian Acara

Pantauan di lokasi menunjukkan mahasiswa mendesak panelis untuk merespons secara langsung tuntutan mereka. Budiman cs sempat mencoba meredam suasana, namun massa terus berorasi. Panitia akhirnya memutuskan menghentikan diskusi lebih awal demi keamanan.

Koordinator aksi, yang enggan disebut namanya, menyatakan bahwa protes ini bukan anti-Pancasila. Justru, menurutnya, mahasiswa ingin mengingatkan bahwa Pancasila telah dijadikan alat pembenaran kebijakan yang merugikan petani, buruh, dan aktivis lingkungan. "Kami muak dengan diskusi elite yang tak berdampak pada penegakan hukum," ujarnya.

Respon Kampus dan Tindak Lanjut

Pihak UGM melalui Kepala Biro Humas dan Protokol menyayangkan insiden ini. Mereka menegaskan bahwa diskusi tersebut bagian dari program penguatan ideologi yang terbuka untuk umum. Namun, pihak kampus mengaku akan mengevaluasi format dialog ke depan agar lebih partisipatif.

Belum ada pernyataan resmi dari Budiman Sudjatmiko atau panelis lainnya. Namun, seorang sumber di lingkungan panitia menyebutkan bahwa mereka terbuka untuk berdialog dengan mahasiswa di forum terpisah. Rencana pertemuan lanjutan masih dibahas.

Gelombang Kritik di Kampus Lain

Aksi serupa dikabarkan terjadi di beberapa universitas lain dalam sepekan terakhir. Mahasiswa Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya juga menggelar aksi damai menolak apa yang mereka sebut "politisasi Pancasila". Fenomena ini menunjukkan kegelisahan akar rumput yang meluas terhadap arah kebijakan pemerintah.

Pengamat politik dari UGM, Dr. Arya Budi, menilai bahwa protes ini sinyal kuat bahwa generasi muda tidak lagi puas dengan retorika. "Mereka menuntut bukti konkret—penegakan hukum yang adil, bukan sekadar seminar," katanya. Ia memprediksi tekanan mahasiswa akan meningkat jika pemerintah tidak merespons serius.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top