Perdebatan ini pecah setelah Strategy merilis data terbaru pekan lalu. Perusahaan yang dulu bernama MicroStrategy itu mengakuisisi 1.550 BTC pada periode 1 Juni hingga 8 Juni. Total kepemilikan bitcoin mereka melonjak dari 843.706 BTC menjadi 845.256 BTC. Namun, jumlah saham terdilusi yang beredar ikut membengkak dari 382,756 juta menjadi 384,180 juta lembar.
Metrik Internal Berbalik Arah
BTC Yield adalah metrik rancangan Strategy untuk mengukur perubahan kepemilikan bitcoin per lembar saham terdilusi. Penurunan dari 13,0% ke 12,8% dalam sepekan menjadi sinyal awal: setiap lembar saham baru kini mewakili lebih sedikit bitcoin.
Matthew Kratter, advokat bitcoin, langsung menyoroti data ini. Ia berargumen transaksi tersebut bersifat dilutif — alias mengurangi nilai bitcoin per saham. "BTC Gain YTD juga turun dari 87.754 BTC menjadi 86.328 BTC," tulis Kratter, memperkuat klaim bahwa strategi penggalangan dana lewat penerbitan saham mulai goyah.
Saylor Membalas: "Jangan Lihat Satu Angka Saja"
Michael Saylor tidak tinggal diam. Dalam bantahannya, ia menyebut BTC Yield sebagai indikator yang terlalu sempit. "Metrik itu hanya mengukur bitcoin per saham, bukan akresi total bagi pemegang saham," ujar Saylor. Ia menambahkan, transaksi ini juga menambah sekitar 100 juta dolar AS ke cadangan dolar AS perusahaan, sehingga total cadangan kini mencapai 1 miliar dolar AS.
Menurut Saylor, ketika bitcoin dan kas digabungkan, transaksi ini justru bersifat akretif — meningkatkan nilai total aset per saham. "Kalian harus melihat neraca secara utuh," tegasnya.
Kritik Mengalir: "Mereka Terus Mengubah Aturan"
Pernyataan Saylor menuai respons pedas dari komunitas. Seorang pengguna dengan akun Wazz menulis, "Perhatikan bagaimana mereka terus mengubah aturan agar sesuai dengan alkimia keuangan yang mereka lakukan. Awalnya BTC Yield dipamerkan sebagai metrik standar akresi. Sekarang malah disebut 'KPI sempit' yang tidak relevan."
Kritik serupa datang dari akun Quoth the Raven yang mengaku sebagai short seller. "Saya sudah menyaksikan banyak perusahaan memindahkan gawang. Ketika metrik lama tidak lagi menceritakan kisah yang mereka inginkan, mereka menghapusnya dan menggunakan yang baru," tulisnya.
Apa Artinya bagi Investor Indonesia?
Bagi investor kripto di Indonesia yang memegang saham MSTR atau terpapar ETF bitcoin, perdebatan ini menjadi pengingat penting. Strategi agresif Strategy dalam mengakuisisi bitcoin melalui penerbitan saham dan utang memang mendongkrak harga aset, tapi juga meningkatkan risiko dilusi. Ketika harga bitcoin stagnan atau turun, beban dilusi langsung terasa di kantong pemegang saham.
Belum ada keputusan resmi dari Strategy untuk mengubah metrik pelaporan mereka. Namun, perdebatan di X ini menunjukkan pasar mulai skeptis terhadap "alkimia keuangan" yang selama ini menjadi andalan Saylor. Para analis kini menunggu laporan keuangan kuartal berikutnya untuk melihat apakah BTC Yield akan kembali naik atau terus merosot.