Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa aktivitas ekonomi di Bumi Serambi Mekkah tetap terjaga meski mengalami perlambatan laju. Pertumbuhan 4,09 persen (year-on-year) ini ditopang oleh dua mesin utama: masifnya proyek pembangunan fisik dan tingginya belanja rumah tangga di awal tahun.
Lonjakan Sektor Konstruksi dan Penjualan Semen
Sektor konstruksi menjadi motor penggerak paling signifikan pada triwulan pertama tahun ini. BPS mencatat adanya kenaikan penjualan semen hingga 30 persen di Aceh. Angka ini merefleksikan tingginya aktivitas rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascabencana, mulai dari pembangunan rumah tinggal hingga perbaikan akses jalan dan jembatan.
“Kegiatan rekonstruksi menjadi salah satu motor penggerak ekonomi saat ini,” kata Kepala BPS Aceh, Agus Andria, Rabu (6/5/2026).
Peningkatan ini juga dibarengi dengan pulihnya sektor akomodasi. Setelah sempat lesu akibat dampak banjir beberapa waktu lalu, mobilitas masyarakat yang kembali normal mendorong aktivitas hotel dan penginapan di berbagai wilayah Aceh kembali bergeliat.
Daya Beli Meningkat Berkat THR dan Program Makan Gratis
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga mendapat suntikan tenaga dari kebijakan fiskal dan momentum keagamaan. Jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Aceh tercatat naik 11,32 persen, yang diikuti dengan pencairan gaji serta Tunjangan Hari Raya (THR) menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Selain faktor ASN, program Makan Bergizi Gratis mulai memberikan dampak ekonomi nyata di tingkat lokal. Kehadiran lebih dari 650 satuan pelayanan aktif telah menggerakkan rantai pasok sektor makanan dan perdagangan di kabupaten/kota.
Aktivitas sosial juga tercatat meningkat tajam. Lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) melaporkan tingginya penyaluran donasi untuk korban banjir serta peningkatan kegiatan keagamaan selama bulan suci, yang turut memperkuat perputaran uang di masyarakat.
Kinerja Sektor Peternakan dan Posisi Regional Aceh
Menjelang hari besar keagamaan, sektor peternakan memberikan kontribusi positif melalui peningkatan permintaan daging ayam, sapi, dan kerbau. Kenaikan konsumsi protein hewani ini menjadi indikator kuat terjaganya daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi regional.
Secara makro, ekonomi Aceh menyumbang 4,88 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pulau Sumatera. Meskipun tumbuh positif secara tahunan, Aceh mengalami kontraksi sebesar 0,61 persen jika dibandingkan dengan Triwulan IV 2025 (quarter-to-quarter).
Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Sumatera, pertumbuhan Aceh masih berada di bawah Kepulauan Riau yang memimpin dengan angka 7,04 persen. Namun, BPS optimistis kinerja ekonomi Aceh tetap stabil berkat kombinasi belanja pembangunan pemerintah dan konsumsi masyarakat yang konsisten.