LHOKSEUMAWE — Pesantren Modern Misbahul Ulum kembali meluluskan 176 santri yang terdiri dari 64 putra dan 112 putri pada prosesi wisuda tahun ini. Dari total lulusan tersebut, delapan santri berhasil meraih predikat cumlaude dan dua santri putra mengukuhkan diri sebagai hafiz Al-Qur’an 30 juz.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, mulai dari perwakilan Pemerintah Aceh, Kanwil Kemenag Aceh, hingga unsur TNI-Polri. Kehadiran para tokoh ini menjadi bentuk dukungan terhadap eksistensi pesantren yang telah berdiri selama 33 tahun di Bumi Serambi Mekkah.
Alumni Berkiprah di Australia hingga Kedutaan Besar RI
Ketua Pembina Yayasan, Prof. Dr. H. Zamakhsyari bin Hasballah Thaib, Lc., M.A., mengungkapkan bahwa kiprah lulusan Misbahul Ulum kini telah merambah panggung internasional. Sejak berdiri, pesantren ini telah melahirkan 4.008 alumni yang berkarier di berbagai sektor strategis.
“Alumni kami telah menjadi profesor di Australia hingga staf kedutaan besar RI di berbagai negara,” ujar Prof. Zamakhsyari di hadapan para wali santri dan tamu undangan.
Direktur Pesantren Modern Misbahul Ulum, Ustaz Martunis, S.Pd., Gr., M.Hum., M.Pd., menambahkan bahwa daya tarik pesantren ini kini menjangkau calon peserta didik dari luar negeri. Pada tahun ajaran baru, terdapat calon santri yang mendaftar dari Jepang dan Amerika Serikat.
“Hal ini menjadi bukti bahwa Misbahul Ulum telah berkembang secara global melalui syiar pendidikan,” kata Martunis.
Integrasi Kurikulum Nasional dan Karakter Pesantren
Dalam sistem pendidikannya, Misbahul Ulum menerapkan pola integrasi antara kurikulum nasional dengan kurikulum pesantren yang tetap berpijak pada kearifan lokal. Pendekatan ini bertujuan agar santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga kompetitif dalam bidang sains dan teknologi.
Ustaz Martunis menekankan bahwa integritas dan akhlak tetap menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan di lembaga yang ia pimpin. Ia mengingatkan para lulusan bahwa nilai seseorang ditentukan oleh sikap dan adab di tengah masyarakat.
“Kami memadukan kurikulum nasional dan pesantren, sehingga santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu bersaing dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,” jelasnya.
Capaian Hafiz 30 Juz dan Penguasaan Kitab Kuning
Suasana haru mewarnai prosesi saat dua santri dinobatkan sebagai hafiz 30 juz, yakni Muhammad Hafizhan Luthfi asal Lhokseumawe dan Azzam Al Anzami asal Bireuen. Keduanya menjalani uji hafalan langsung oleh pembina tahfiz di depan publik.
Selain hafalan Al-Qur’an, para santri juga mendemonstrasikan kemampuan membaca kitab kuning menggunakan metode Al-Miftah Lil Ulum. Capaian ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Marzuki, S.Ag., M.H., yang hadir mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf.
“Tantangan terbesar kita saat ini bukan peperangan, melainkan memberantas kebodohan,” tegas Marzuki saat membacakan pesan Gubernur Aceh mengenai pentingnya membangun generasi berkarakter kuat.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Dr. H. Azhari, M.Si., yang turut hadir dalam acara tersebut, memberikan testimoni positif terhadap kualitas lulusan. Ia menilai perpaduan sistem salafiah dan modern di Misbahul Ulum telah membuahkan hasil nyata bagi masa depan generasi Aceh.