BANDA ACEH — Ribuan warga memadati Taman Bustanussalatin (Taman Sari) pada Selasa malam untuk mengikuti pergelaran perdana Dakwah Umum Kolaborasi yang diinisiasi Pemerintah Kota Banda Aceh. Acara ini menjadi salah satu program unggulan dalam visi Banda Aceh Kota Kolaborasi.
Dalam sambutannya, Illiza menekankan bahwa dakwah di era modern tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pesan-pesan keagamaan tetap relevan bagi semua kalangan, terutama generasi muda.
"Dakwah adalah ikhtiar agar generasi muda memiliki teladan, agar keluarga memiliki pegangan, dan agar masyarakat tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman yang begitu cepat," ujar Illiza di hadapan peserta yang hadir.
Kolaborasi Ulama, Kreator Digital, hingga Pelaku Usaha
Illiza menjelaskan, Dakwah Umum Kolaborasi dirancang untuk mempertemukan berbagai potensi dalam satu semangat yang sama. Tidak hanya ulama dan ustazah, program ini juga melibatkan komunitas dakwah, kreator digital, pendidik, seniman, hingga pelaku usaha.
"Kolaborasi antara pendidik, seniman, pelaku usaha, serta berbagai elemen masyarakat lainnya," kata Illiza menyebutkan siapa saja yang diharapkan ambil bagian.
Menurutnya, menjaga nilai-nilai Islam dan membangun masyarakat yang kuat bukan hanya tugas pemerintah atau ulama, melainkan tanggung jawab bersama. "Ini juga sejalan dengan visi Banda Aceh Kota Kolaborasi," tegasnya.
Mengapa Tema "Seuramoe Hatee" Dipilih?
Tema yang diusung pada pergelaran perdana ini, "Seuramoe Hatee", dipilih karena sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Aceh. Illiza menjelaskan, serambi dalam budaya Aceh bukan sekadar bagian dari rumah, melainkan ruang tempat keluarga berkumpul, cerita dibagikan, dan nasihat disampaikan.
"Di situlah hati kembali dikuatkan," ujarnya.
Kehadiran Syeikh Reza Abdul Jabbar, yang dikenal aktif berdakwah di lingkungan muslim minoritas, menjadi pengingat tersendiri bagi warga Banda Aceh. Illiza menyebut, jika di tempat yang umat Islamnya minoritas saja nilai-nilai Islam tetap dijaga dan majelis ilmu tetap hidup, maka masyarakat Banda Aceh yang hidup di kota dengan fasilitas keagamaan melimpah tidak boleh lengah.
"Kita hidup di kota yang memiliki begitu banyak nikmat. Masjid ada di setiap gampong. Meunasah hidup di tengah masyarakat. Majelis ilmu tumbuh. Ruang-ruang dakwah terbuka luas. Tetapi nilai-nilai yang baik tetap harus dirawat," katanya.
Dakwah sebagai Penyeimbang Pembangunan Fisik
Illiza juga mengingatkan bahwa di tengah berbagai kemajuan pembangunan fisik kota, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: kebutuhan manusia akan arah dan nilai. Menurutnya, manusia tidak hanya membutuhkan infrastruktur, tetapi juga ruang untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
"Manusia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik. Manusia juga membutuhkan arah. Membutuhkan nilai. Membutuhkan ruang untuk saling mengingatkan dalam kebaikan," pungkas Illiza.
Dakwah Umum Kolaborasi direncanakan akan digelar secara berkala di berbagai titik di Banda Aceh dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Pemerintah Kota membuka peluang bagi komunitas dan kreator yang ingin berkolaborasi dalam kegiatan serupa. (*)