PSSI melayangkan peringatan keras soal pengawasan FIFA menyusul kericuhan di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, Jumat (8/5/2026). Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, menegaskan bahwa tindakan anarkis suporter dapat merusak proses transformasi sepak bola nasional yang sedang dipantau ketat oleh federasi internasional.
Kericuhan pecah sesaat setelah pertandingan Play-off Promosi Championship 2025/2026 antara Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC Banten berakhir. Kekalahan 0-1 yang diderita tim Mutiara Hitam membuat pendukung tuan rumah meluapkan kekecewaan secara berlebihan hingga masuk ke area lapangan dan merusak berbagai fasilitas stadion.
FIFA Masih Pantau Transformasi Sepak Bola Indonesia
Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, menekankan bahwa Indonesia belum sepenuhnya lepas dari radar pengawasan FIFA. Insiden di Jayapura ini dikhawatirkan memberikan citra buruk di mata dunia, mengingat federasi internasional tersebut masih memonitor perkembangan keamanan stadion sejak Tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022.
"Tentu ini juga akan menggores perjalanan sepak bola kita, yang kita tahu bersama saat ini kita lagi sementara dimonitor, diawasi oleh FIFA. Dan PSSI berharap hal ini tidak akan terulang lagi," ujar Yunus Nusi dalam keterangan resminya, Sabtu (9/5/2026).
PSSI menyayangkan momentum kebangkitan sepak bola nasional harus ternoda oleh aksi kekerasan. Yunus meminta seluruh elemen suporter menyadari bahwa setiap tindakan negatif di tribun maupun luar stadion memiliki dampak panjang terhadap kredibilitas kompetisi di tanah air.
Kegagalan Promosi Persipura Picu Aksi Pembakaran
Kekecewaan suporter Persipura dipicu oleh kegagalan tim kesayangan mereka untuk kembali ke kasta tertinggi, Liga Indonesia Super League. Setelah dipastikan kalah tipis dari Adhyaksa FC, oknum pendukung tidak hanya merusak fasilitas di dalam Stadion Lukas Enembe, tetapi juga melakukan tindakan anarkis di area luar.
Laporan di lapangan menunjukkan sejumlah kendaraan dibakar oleh massa yang tidak terkendali. PSSI mengaku tidak menyangka tensi pertandingan akan berakhir dengan kerusuhan hebat, mengingat masyarakat Papua selama ini dikenal memiliki kecintaan yang besar terhadap sepak bola.
"Karena kami tahu bahwa masyarakat dan suporter, masyarakat Papua, suporter Persipura sangat cinta dengan sepak bola. Tentu dengan cinta akan sepak bola pasti kalian ingin menjaga ketertiban dan keamanan di Stadion Lukas Enembe," lanjut Yunus.
PSSI Desak Kesadaran Kolektif Seluruh Suporter
Menanggapi insiden ini, federasi meminta suporter untuk lebih dewasa dalam menyikapi hasil pertandingan. PSSI menggarisbawahi bahwa sportivitas adalah fondasi utama agar industri sepak bola Indonesia bisa dinikmati sebagai tontonan yang aman bagi keluarga.
Yunus Nusi mengajak para pendukung klub untuk saling mengingatkan di tribun. Menurutnya, kericuhan hanya akan mendatangkan kerugian bagi klub itu sendiri, mulai dari sanksi disiplin hingga kerusakan infrastruktur yang dibiayai oleh negara.
"Mari kita sama-sama untuk menjaga ketertiban dan keamanan di masing-masing stadion. Kita mulai dari diri kita sendiri, kita mulai dari suporter yang menjadi andalan klub kesayangan kita untuk saling mengingatkan bahwa keamanan itu sangat penting," pungkasnya.