BANDA ACEH — Kerja sama ini mencakup kolaborasi antara Sekolah Pascasarjana USK, Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK melalui Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB) dan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC). MoA ditandatangani langsung oleh Dekan FISB UII Prof. Dr. rer. soc. Masduki, Direktur Sekolah Pascasarjana USK Prof. Dr. Hizir, Ketua LPPM USK Prof. Dr. Taufiq C. Dawood, dan Ketua TDMRC USK Prof. Dr. Muksin.
Media dan Narasi Perdamaian di Tengah Krisis Berlapis
Seminar yang mengusung tema “Memori, Perdamaian, dan Ketahanan Masyarakat dalam Menghadapi Krisis dan Bencana” ini menghadirkan tiga narasumber. Prof. Masduki dalam materinya menekankan bahwa media tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi membentuk cara publik memahami krisis dan proses pemulihan. “Komunikasi publik yang inklusif menjadi elemen penting dalam membangun ketahanan sosial,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Hamdani M. Syam menyoroti pendekatan jurnalisme damai dalam peliputan konflik. Menurutnya, media punya tanggung jawab untuk menghadirkan narasi yang mengurangi polarisasi dan mendukung rekonsiliasi, khususnya di Aceh yang memiliki pengalaman panjang konflik bersenjata.
Konflik dan Tsunami: Krisis Berlapis yang Tak Terpisahkan
Materi paling menonjol datang dari Alfi Rahman, Ph.D., dosen FISIP USK sekaligus Direktur PRISB. Ia memaparkan riset terbaru yang terbit di Asian Journal of Social Science tentang layered disasters atau krisis berlapis. Alfi menjelaskan bahwa konflik Aceh (1976–2005) dan tsunami Samudra Hindia 2004 tidak bisa dipahami sebagai dua peristiwa terpisah. Keduanya membentuk memori kolektif yang saling bertumpuk dan memengaruhi kerentanan serta proses pemulihan masyarakat Aceh.
“Melalui wawancara mendalam di berbagai wilayah, kami menemukan bahwa pengalaman konflik dan tsunami membentuk lapisan trauma yang berbeda namun saling terkait,” kata Alfi dalam presentasinya.
Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Riset Kebencanaan
Ketua Prodi Doktor Ilmu Kebencanaan USK, Prof. Dr. Muksin, menyebut kerja sama ini sebagai langkah strategis memperkuat riset multidisiplin. “Kami ingin menjembatani perspektif ilmu pengetahuan dalam memahami dinamika bencana, konflik, dan pemulihan masyarakat,” ujarnya dalam laporan pembukaan seminar.
Ruang kerja sama ini mencakup publikasi ilmiah, seminar akademik, pengembangan kebijakan, dan pengabdian masyarakat pada isu-isu sosial, budaya, perdamaian, serta kebencanaan. Seminar Series I ini menjadi agenda pertama dari rangkaian diskusi yang direncanakan berlangsung secara berkala.