KUTACANE — Rombongan membawa seorang pasien rujukan dari RSUD H. Sahudin Kutacane menuju RSUD Zainal Abidin Banda Aceh. Ambulans berisi empat orang termasuk sopir, sementara satu mobil Calya mengikuti dari belakang membawa tiga anggota keluarga pasien. Perjalanan dimulai Jumat malam dari Kutacane.
Rute yang dilalui melewati Blangkejeren, Gayo Lues, hingga Aceh Tengah. Kondisi jalan nasional di sejumlah titik sedang dalam perbaikan. Genangan air menutup lubang sehingga pengemudi sulit membaca kedalaman lubang di badan jalan.
Kabut Tebal di Sare dan Jalan Gelap Tanpa Penerangan
Hujan mengguyur sepanjang perjalanan. Kabut tebal menyelimuti kawasan Sare sehingga pandangan ke depan terbatas. Kanan-kiri jalan hanya jurang dan hutan pegunungan yang sepi.
"Sepanjang jalan gelap gulita. Hanya sesekali berpapasan dengan mobil travel dan truk. Saat berpapasan harus ekstra hati-hati. Di Sare, embun tebal menutup pandangan," kata wartawan Waspada.id yang ikut dalam rombongan.
Mobil berkolong rendah yang digunakan beberapa kali kandas di tengah lumpur. Setiap tanjakan terjal dilalui dengan laju pelan. Suara binatang malam dan desir angin pegunungan mendominasi sepanjang jalur.
Air Saluran Meluap di Ise-Ise, Ambulans Terpaksa Menepi
Menjelang pagi hujan mulai reda. Namun di kawasan rumah makan Ise-Ise, air dari saluran meluap ke badan jalan. Ambulans dan mobil di belakangnya menepi untuk sementara karena khawatir tergelincir.
Rombongan sempat berhenti di Gayo Lues untuk melepas lelah dan makan pagi. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan menahan kantuk hingga tiba di Banda Aceh.
Tepat pukul 08.00 WIB, pasien langsung masuk ruang UGD RSUD Zainal Abidin Banda Aceh. Hujan dengan intensitas sedang kembali mengguyur kawasan rumah sakit saat rombongan tiba.
Jalan nasional Kutacane–Blangkejeren–Banda Aceh menjadi jalur utama rujukan pasien dari wilayah Gayo Lues dan Aceh Tengah ke ibu provinsi. Perbaikan jalan di beberapa titik masih berlangsung, sementara penerangan jalan minim di sejumlah ruas pegunungan.