SUBULUSSALAM — Menteri PU Dody Hanggodo langsung meninjau lokasi pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 2 pada Sabtu (13/6) untuk memastikan percepatan proyek di tengah kendala geografis. Ia menyebut pengiriman baja dan material berat dari pusat distribusi memakan waktu lebih lama dibanding daerah lain.
“Kita harus mengakui lokasi Subulussalam cukup menantang dari sisi logistik. Mengangkut material ke sini tidak mudah. Bahkan perjalanan darat menuju lokasi saja cukup berat, apalagi untuk mengangkut material konstruksi dalam jumlah besar,” ujar Menteri Dody dalam keterangannya.
Substitusi Baja ke Beton untuk Percepat Konstruksi
Untuk mengatasi hambatan distribusi, Kementerian PU mengevaluasi sejumlah titik yang semula menggunakan struktur baja. Sebagian akan diganti dengan beton agar pekerjaan tidak bergantung pada pengiriman material kompleks dari luar daerah.
“Kita sedang mencari metode kerja yang lebih efektif. Beberapa titik yang semula direncanakan pakai baja akan dievaluasi sebagian diganti beton, supaya konstruksi bisa lebih cepat tanpa mengurangi kualitas,” jelas Menteri Dody.
Progres 60 Persen, Material 62 Persen Sudah di Lokasi
Hingga saat ini, progres pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 2 mencapai 60 persen. Ketersediaan material di lokasi tercatat 62 persen, sementara sisanya masih dalam perjalanan. Tim proyek dari PT Waskita Karya mengoptimalkan jalur laut dan udara untuk mempercepat distribusi.
Selain itu, batching plant didirikan di area proyek, alat berat ditambah, dan personel TNI dikerahkan untuk mendukung percepatan. “Kita akan terus cari cara terbaik, tercepat, dan paling efektif. Yang penting bukan hanya cepat selesai, tapi juga menghasilkan bangunan berkualitas yang bisa dipakai jangka panjang,” tegas Menteri Dody.
Kawasan Pendidikan Terpadu di Lahan 6,8 Hektare
Sekolah Rakyat Aceh 2 dibangun di atas lahan seluas 6,8 hektare dengan nilai kontrak Rp453,3 miliar. Kawasan ini dirancang sebagai pusat pendidikan terpadu yang mencakup gedung SD, SMP, SMA, asrama siswa, rusun guru, masjid, gedung serbaguna, serta lapangan mini soccer, basket, dan voli.
Dengan strategi percepatan yang diterapkan, Kementerian PU menargetkan sekolah ini segera beroperasi untuk menjawab kebutuhan pendidikan di wilayah perbatasan Aceh.