BIREUEN — Petani di tujuh kecamatan di Kabupaten Bireuen masih menanti rampungnya penanganan darurat Bendung Irigasi Pante Lhong Peusangan (PP) yang jebol sejak banjir bandang akhir Juni 2026. Jika tidak segera selesai, ribuan hektare sawah terancam gagal tanam akibat kekeringan di tengah musim kemarau.
Irigasi Pante Lhong selama ini menyuplai air ke 6.562 hektare lahan sawah yang tersebar di tujuh kecamatan. Kepala Distanbun Bireuen, M Kasem, menyebut petani sangat bergantung pada aliran Krueng Peusangan untuk mengolah tanah.
“Petani berharap walau belum bisa mengairi seluruhnya, minimal 2.000 hektare karena sangat butuh air mengolah tanah, karena jarang turun hujan,” ujarnya kepada wartawan di lokasi, Sabtu (13/6).
Empat Kali Jebol Sejak Desember 2025
Penanganan darurat bendung irigasi ini sebenarnya sudah dimulai sejak Desember 2025. Namun, proyek perbaikan berkali-kali terhambat oleh kondisi alam yang tidak menentu.
Teguh, perwakilan PT Adhi Karya selaku penanggung jawab lapangan, mengungkapkan bahwa sejak pengerjaan dimulai, tanggul sudah jebol sebanyak empat kali akibat sungai meluap secara tiba-tiba. “Di kawasan itu sering gerimis, tiba-tiba air naik sampai lewat tanggul lagi dikerjakan dan tidak bisa diprediksi,” katanya.
Akibatnya, material batu penahan ikut terbawa arus dan pekerjaan terpaksa dihentikan sementara. Kondisi ini memperpanjang masa tunggu petani yang sudah sangat membutuhkan air untuk mengolah sawah.
Progres 132 Meter, Kendala di Ujung Wingwall
Panjang total tanggul darurat yang harus dibangun mencapai 142 meter. Hingga pertengahan Juni 2026, kontraktor telah menyelesaikan 132 meter atau sekitar 93 persen dari target.
Bagian ujung tanggul saat ini sudah tersambung dengan dinding penahan pemecah ombak (wingwall) untuk mencegah longsor di sekitar box culvert. Namun, elevasi tanggul saluran irigasi dari permukaan air laut rata-rata masih belum mencapai ketinggian yang direncanakan.
Teguh menambahkan, sejumlah truk masih mengangkut material ke lokasi dan akan dilakukan penguncian setelah seluruh bagian tersambung dengan wingwall. “Apabila tidak jebol lagi, kemungkinan akan selesai dalam waktu dekat,” ujarnya.
Penanganan Permanen Menyusul
Pj Swasembada Pangan Provinsi Aceh, Dr drh Agus Susanto, M.Si, yang turun langsung meninjau lokasi, memastikan bahwa setelah tanggul darurat rampung, pemerintah akan melanjutkan pembangunan permanen. “Kami sudah mendengar berbagai penjelasan penanganan darurat dan diperkirakan akan segera selesai,” sebutnya.
Ia berharap air Krueng Peusangan bisa kembali mengairi sawah, setidaknya sebagian, agar petani tidak kehilangan masa tanam. “Kasihan petani dan kita berharap bisa ditangani semua,” pungkasnya.